Senin, 08 Desember 2008

Hanya sebatas cerita kenangan masa lalu








Tidak dapat kubayangkan jika tanpa kemurahanNya maka Manusia hanya akan meninggalkan sebuah cerita lama dalam bentuk kenangan masa lalu, bahwa manusia pernah saling membutuhkan, saling memuji diantara diri mereka sendiri.

Benar apa yang telah tertulis, sekalipun aku memiliki semua bahasa manusia, sekalipun aku memiliki bahasa-bahasa malaikat yang paling kudus sekalipun, tapi jika tanpa Kasih aku sama seperti gong yang berkumandang dan canang yang bergemerincing.

Sekalipun aku memiliki Iman yang bisa memindahkan gunung sekalipun, tapi jika aku tidak memiliki kasih, aku sama sekali tidak berguna. Sudah begitu banyak kuupayakan untuk hidup berkenan kepadaNya baik ketika aku sendirian, entah mungkin juga ketika aku berada diantara beragamnya sesamaku manusia, tidak pernah kutemukan yang lebih besar daripada kasih, sekalipun aku belum mengetahui bagaimana wujud Kasih itu, tetapi apa yang telah kualami dimasa-masa lalu menyaksikan keberadaanNya, bahwa Dia benar2 ada didalam keterpurukankanku.

Aku tahu apa arti sebuah kemenangan, seperti yang aku ketahui tentang kekalahan, aku tahu apa artinya sebuah pujian, seperti yang aku ketahui tentang apa itu umpatan, cacian, dan cercaan, bahwa semua keadaan itu ternyata tidak ada bedanya bila tanpa kasih.

Keduanya hanya dipisahkan oleh waktu


Dua ketentuan berbeda wujud dan bentuk karena dipisahkan oleh waktu, yang satu debu tanah dan yang lain tangan manusia. Aku percaya jika tanpa kemurahanNya, benar apa yang telah tertulis:”Dari debu dan tanah kembali kepada debu dan tanah”

Lalu apakah dan siapakah Anak Manusia? Apabila pernah dikatakan bahwa Manusia adalah mahluk paling mulia dibanding ciptaanNya yang lain? Dimana letak nilai lebihnya?

Bukankah alam sendiri telah bersaksi, bahwa dari bumi ini Dia telah menyediakan berbagai ragam kehidupan sekalipun kehidupan itu masih dalam bentuk katakanlah berupa biji2an atau benih tanaman, bahwa sekalipun benih itu mati terkubur dalam tanah sebenarnya benih itu tidak benar2 mati, ada saatnya benih itu bertumbuh sebagai sebuah tunas, yang kemudian menjadi tumbuh-timbuhan.

Manusia Alamiah ibarat benih yang fana yang dikuburkan kedalam tanah (dikembalikan kepada debu & tanah), apabila dikuburkan bersama dengan benih kebenaran yang diterimanya ketika masih berwujud Mahluk Hidup (Manusia), maka Manusia itu bukan lagi disebut sebagai Mahluk Hidup, tapi Manusia Rohaniah, sebuah keadaan hidup yang telah dilepaskan dari kefanaan dan ketakutan akan maut yang adalah kematian.


Minggu, 07 Desember 2008

Aku berhutang kepadaNya


"Hanya oleh dusta saja hidup ini masih tertampak seperti semua yang bisa kita pikirkan tentang kehidupan itu sendiri. Bukankah kebenaran seperti sebuah buku yang dibuka lembaran demi lembaran kepada maksud dan tujuan yang sebenarnya, ketika satu persatu semua yang bisa kita pikirkan, rasakan, perkatakan dan perbuat tentang Dia, seperti dilucuti satu persatu, supaya hanya KehendakNya yang sempurna-lah yang jadi"

Bukankah hanya pada DIA saja Sang Kehidupan itu ada, sebuah keadaan hidup yang telah ditampakan kedalam hati kita dalam keadaanNya yang sepadan dengan keadaan lahiriah kita, supaya Dia menjadi jalan sampai maut dan ketakutan karena dosa itu ditiadakan dari antara kita pada akhirnya.

Aku sudah menyaksikan didalam keseharianku bahwa ketakutan, kecemasan, kelemahan dsbnya sudah menjadi kodrat dalam kehidupan manusia. Aku menimbang bahwa semua itu bukan sebuah (suatu) perbuatan yang dilakukan oleh orang per orang, melainkan sebuah keadaan atau potensi yang hanya identik dengan maut yang ada didalam semua mahluk hidup, sebuah keadaan yang justru sangat bertentangan (tidak diinginkan oleh siapapun) sekalipun semua manusia kelak akan mengalami dalam hal berhadapan dengan maut itu.

Persoalannya adalah kekuatan apa yang dapat melepaskan manusia dari keadaan tersebut, selain menerima kebenarannya seraya mengakui dihadapan Sang Pencipta kehidupan, bahwa jika kita percaya kepadaNya serta mewujudkan percaya itu kedalam bentuk mau mengakui bahwa kehendak "Kehidupan" itu jauh lebih kuat dibanding kehendak kita yang sarat dengan ketakutan oleh karena maut itu sendiri.

Yesus:"Bapa ... kalau boleh lalukan cawan (murka) ini daripadaKu, tetapi bukan kehendakKu yang jadi, kehendakMu-lah yang jadi".

Kapan pesta pora ini berakhir?







Kapan pesta pora ini berakhir? .. sebuah pertanyaan yang mungkin pernah merasuk amat dalam didalam diri seorang Nabi yang bernama Nuh, ketika menyaksikan umat manusia dizamannya lupa kepada satu hal yang paling pokok (mereka menista kebenaran & perbuatan Hambanya dalam bentuk penolakan) , bahwa terang kehidupan itu bukan berasal dari apa yang sanggup mereka pikirkan dan perbuat, hanya oleh semata-mata karena mereka belum pernah melihat asal-usul bumi tempat mereka berpijak.

Entah itu Air yang bisa menenggelamkan segala sesuatu atau entah itu Api cobaan kelak, yang bisa menghanguskan segala sesuatu, yang jelas memang mereka saat itu memang benar2 sengaja tidak mau tahu terhadap keadaan yang sudah pasti belum pernah mereka saksikan dengan mata kepala mereka sendiri, sekalipun kepada mereka telah dinyatakan dalam bentuk dihadirkannya seorang utusan Tuhan dengan proyek "Membangun sebuah Bahtera diatas Gunung!"berikut peringatan2 yang berhubungan dengan kenapa bahtera itu dibangun diatas gunung.

Persoalannya adalah apakah penolakan mereka terhadap kebenaran adalah sebuah peluang bagiku untuk menghujat kedegilan hati mereka? Aku lebih memilih untuk berkata "Tidak" karena aku sadar aku dulu juga bagian dari mereka, sekalipun perbuatan mereka dan perbuatanku dimasa lalu dipisahkan oleh waktu yang cukup panjang, aku sadar bahwa karena kebenaran itu sangat mulia dan sempurna, maka sampai kapanpun jika Tuhan tidak bermurah hati, tidak ada seorang Manusiapun yang sanggup meluputkan dirinya dari kedegilan hati dihadapan Sang Kebenaran.

Aku lebih memilih untuk lebih banyak lagi merenungkan dan mengoreksi diri lebih banyak lagi, ketika aku ingat ada sesamaku Manusia ....


"Dia lahir dikandang binatang,mati diantara penjahat.., semarakpun tidak ditemukan pada diriNya dalam pandangan kekuatan dunia"







Mereka bukan benda2 mati atau lyrik lagu sekedar dinyanyikan






Beautiful Christmas Tree ...

We Wish You a Merry Christmas – lyrics

We wish you a Merry Christmas;
We wish you a Merry Christmas;
We wish you a Merry Christmas and a Happy New Year.
Good tidings we bring to you and your kin;
Good tidings for Christmas and a Happy New Year.

Oh, bring us a figgy pudding;
Oh, bring us a figgy pudding;
Oh, bring us a figgy pudding and a cup of good cheer

We won't go until we get some;
We won't go until we get some;
We won't go until we get some, so bring some out here


We wish you a Merry Christmas;
We wish you a Merry Christmas;
We wish you a Merry Christmas and a Happy New Year.






Kamis, 04 Desember 2008

Menikmati suasana yang berbeda


Ada kalanya mereka membutuhkan sebuah suasana baru dimana mereka bisa saling berbagi dan bertukar pikiran. Sebuah suasana yang yang tidak kaku serta terlepas dari ritual2 keagamaan yang diatur oleh peraturan2 organisasi dalam sekat2 tembok tempat ibadah.

Mereka berkembang dan beranak cucu